The Shape of Heart #2


The Shape Of Heart

@Septia_Wu

.

.

.

.

don't forget to Review. Enjoy~

.

.

{Chapter 2}

.

.

.

.

.

...............

Hujan turun dengan deras, mengguyur setiap inchi jalanan Kota Seoul. Semua orang berlalu-lalang di jalanan. Payung-payung warna warni menghiasi setiap sudut kota, setiap orang melindungi tubuh mereka dari dinginnya udara. Segelas Caramel Macchiato dan sepiring Matcha cake yang sering menjadi pilihan di cafe-cafe sekitaran Itaewon dan Hongdae.

Rintik-rintik air hujan turun dari sudut rambut Aditya, seragamnya basah. Dan ia tidak peduli. Kepalanya terlalu pening melihat semua yang terjadi di keluarganya. Air mata yang turun bersama dengan hujan, membuatnya mudah disamarkan. Ia melangkahkan kakinya berat, berusaha menenangkan pikirannya dengan bermain basket
.

Ia menatap lekat-lekat ring di hadapannya. Berusaha memfokuskan pikirannya. Bola basket memantul menghantam lapangan, air terciprat kemana-mana dan ia tak peduli.

“Anggap saja, setiap kau berhasil mencetak poin, satu masalahmu hilang...” kata-kata yang pernah diucapkan Aris padanya. Dengan cepat ia men-dribble bolanya mengitari lapangan, sesekali ia melakukan Jump-shoot dan kembali berlari.

#cekrek

Aditya menoleh saat Blitz kamera tiba-tiba terarah padanya. Ia mendapati seorang anak laki-laki mengarahkan kamera ke arahnya, tubuhnya basah kuyup. Ia menutupi kepala dan kameranya dengan jaket kebesaran yang ia kenakan.

“Nugu?” tanyanya, anak laki-laki itu diam dan membungkukkan badannya.

“jeoneun, Riko-imnida..” ia memperkenalkan dirinya. Aditya masih bingung.

“Ah, aku hanya kebetulan lewat. Dan kulihat salah satu anggota basket terbaik di seoul berada disini. Aku fansmu!” ujarnya, aditya tertawa kecil.

“Aku tidak punya fans...” jawabnya, anak lelaki itu menggeleng cepat.

Aniyo,sunbaenim. Kau harus datang ke sekolahku. Kami bahkan punya Fansclub tersendiri..” Aditya tertawa kikuk.

Ia kembali fokus ke bolanya, dan anak bernama Riko itu tetap memotretnya.

Sunbae, apa kau tidak kedinginan?” Riko memecah keheningan diantara mereka, Aditya menggeleng.

“Pulanglah, aku tidak tahu kenapa kau ada disini...” Riko tetap berdiri di belakangnya.

“Sunbae, bagaimana kalau kau pulang ke rumahku dulu? Tak baik lama-lama di bawah hujan..” lagi-lagi Aditya menggeleng.

Nan gwenchana, pulanglah...” Riko mendekat dan menarik tangannya pergi. Ia tak menghiraukan penolakan yang terus keluar dari mulutnya.

........................

“kau tau alasanku kenapa tak suka orang-orang kaya...” aditya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk, ia tersenyum dan berterima kasih ke arah Riko yang menyodorkan segelas Hot Chocolate ke arahnya. Bocah lelaki itu duduk bersila di hadapannya dan mendengarkannya berbicara dengan seseorang di telepon.

“Aku tau....” jawabnya.

Because of them, people be starvin’and people be killing for food...” Aditya mengangguk sedikit, ia mengerti kenapa Jacob tak menyukai orang-orang kaya. Meski ia sendiri tergolong orang kaya juga.

“But man, these rich mothafuckas they stay eatin' good...”ia menyeruput sedikit coklat panasnya sembari terus mendengar ocehan Jacob.

#krek
Oh, noona was here...” Riko buru-buru berdiri dan berlari ke arah pintu.

“Ah, apakah ada tamu?” suara seorang wanita terdengar dari arah pintu, Aditya berdiri.

“Noona, ada Seonbae disini...” Riko melompat-lompat senang, Aditya membungkuk dan kaget.

“Oh, Luna?”

...........................................

Malam semakin larut, setelah menikmati sepiring nasi goreng kimchi, ia pamit dan berjalan pergi dari rumah Luna.

Pikirannya kembali terbayang ke apa yang ia alami di sana. Ia masih tidak bisa melepaskan rasa penasarannya dari suntikan bekas yang ia temukan di keranjang sampah kamar mandi rumah Luna. Untuk apa ia memakai suntikan sebanyak itu? apakah ia memiliki keluarga yang sedang sakit?

“kalau dipikir-pikir, aku tidak melihat satupun orang dewasa di rumahnya...” Aditya bergumam.

Jalanan masih basah, aroma tanah yang lembab dan sejuk ini menenangkan dirinya. Jam melingkar di pergelangan tangan kanannya, menunjuk ke angka 11 dan 7.

#grek

Pintu rumahnya berderit, ia tak perlu mengendap-endap masuk. Orang tuanya pasti sudah tidur. Mereka tidak peduli kalau ia belum pulang dari sekolah meski selarut apapun. Mereka pasti mengira ia sedang belajar atau ada bimbingan tambahan. Semua hal-hal yang membuatnya stress setiap saat.

“kau baru pulang?” Aditya hampir melompat, ia menoleh dan mendapati Aris tertawa kecil

“kenapa kau kaget begitu?” tanyanya lagi. Aditya mengelus dada.

Hyeong, jinjja! Tidak bisakah kau bertanya dengan cara yang wajar?” Aditya kesal. Aris semakin tertawa. 

“Hei.. hei.. itu cara yang wajar, kau saja yang mudah sekali terkejut..” Aditya memandangi wajah sang kakak. Perasaannya mendadak suram saat melihat bekas luka di sudut bibirnya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Hyeong, kemana semua pialamu?” bodoh! Ia merutuki dirinya sendiri saat tiba-tiba menanyakan hal itu. Aditya melirik sang kakak sekilas.

“A-ah.. itu? aku menyimpannya di kardus. Aku harus fokus ke Studiku, dan aku sudah tidak bermain basket jadi.. kurasa pilihan tepat menyimpannya dan menggunakan rak itu sebagai rak buku. Hahaha...” Aris tertawa, Aditya bisa merasakan kebohongan di ucapannya yang sedikit gugup

“Aditya, lihat!” Aris dengan bangga memamerkan rak buku di kamarnya yang kini perlahan-lahan mulai penuh dengan piala. Sekali lagi, Aditya terkesima.

“Woah, Hyeong! Ini keren...”

“Tentu saja! Siapa dulu yang berhasil mendapatkannya. Aku mencintai piala-piala ini. Sampai kapanpun.. mereka akan tetap berada disini!”

Miris. Kata-kata itu mungkin tepat untuknya sekarang. Kata-kata untuk seseorang yang dipaksa membenci sesuatu yang dicintainya.

“Ah.. begitu, baiklah.” Aditya beranjak ke kamarnya.

“Aditya...” suara Aris menghentikan langkahnya, ia tidak menoleh dan tidak menjawabnya. Lama, tidak ada kata-kata yang muncul diantara mereka.

“Selamat malam. Aku menyayangimu...”

Summer_2xx9

Sekolah sedang sibuk dengan acara tahunan. Ya, musim panas adalah saat yang teat untuk bersenang-senang. Dengan sekaleng cola dingin dan festival musik sudah cukup membuat mereka menggila. untungnya, kegilaan itu terhenti saat hari mulai petang.

Mungkin sebagian besar sedang bersenang-senang di lapangan sekolah sekarang. Tapi tidak dengan tim basket mereka. Tim yang dipimpin Aditya itu justru sedang berlatih untuk Pertandingan Daegu Cup yang akan segera dimulai.

Nafas mereka terengah-engah. Keringat bahkan mulai membasahi lapangan. Mereka semakin terpacu.

“Hei, dimana Jay?” ucapan Jacob mendadak mengalihkan perhatian mereka. Benar juga, mereka tak sadar kalau Hidden Card  mereka menghilang. Aditya mencoba menghubunginya berkali-kali, namun tak ada jawaban.

“Kemana anak itu pergi?” ujarnya frustasi. Ia terus menekan tombol dial dan terus menerus mendapat respon yang sama. Tak dijawab.

Crystal club...” Woohyun buka suara, anggota paling pendiam di tim mereka itu menatapnya serius. “Jay pasti ada di Crystal club..”

“Crystal club? untuk apa anak SMA berada di klub seperti itu?” Hye jun sedikit berteriak tak percaya.

“Kurasa, ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri...”

.

.

Suara musik DJ begitu nyalang.  Siapapun yang tak terbiasa dengan musik sekencang ini mungkin akan refleks menutup telinganya. Gadis-gadis bertubuh sintal dengan tinggi semampai dan Body S-line berlalu lalang di sepanjang pintu masuk klub.

Gaun-gaun gemerlapan karya perancang-perancang seharga ratusan dollar, Ferarri, Porsche, Maserati terjajar dimana-mana. Menunjukkan setinggi apa kelas orang yang mengendarai mobil-mobil mahal itu.

Setiap pria yang turun darinya akan refleks membusungkan dadanya. Bangga. Atau lebih tepatnya, sombong. Mereka akan dengan sengaja melepas kancing lengannya dan memamerkan Vascheron Constantine emas di pergelangan tangan.

Para wanita akan turun dari mobil yang sama. Tak peduli apakah pria yang satu mobil dengannya itu seorang Ahjusshi berumur atau yang sudah memiliki istri sekalipun. Mereka hanya peduli pada kelas, status, dan terlebih lagi, mereka bisa dengan mudah menggenggam tas Birkin atau Kelly dengan kulit eksotis asli seperti kulit Ostrich atau Buaya keluaran Hermes yang cukup langka. Hanya dengan berkencan dengan mereka, meski hanya One-Night Stand.

Jay berdiri bimbang. Ia masih mengenakan seragam SMA-nya. Terserah, yang jelas. Ia harus menyelesaikan masalahnya sekarang.

.

.

“Heish, kenapa anak itu bodoh sekali?” umpat Jacob. Mereka sedang berlari-lari di sepanjang jalan. Mengagetkan pengguna trotoar dengan hampir menabrak mereka beberapa kali.

“Sepertinya begitu...”

“Dia selalu seperti ini sejak kecil..” Eunwoo menimpali.

“Tidak aneh juga kalau Jay seperti itu..”

“Dia memang sulit dipercaya...”

“Kadang-kadang, bahkan aku tidak bisa menduga apa yang akan dilakukan Jay. Kita harus bergegas..” kali ini Aditya yang berkomentar. Ia mempercepat langkahnya.

Mereka terus berlari, kenapa mereka tidak menggunakan kendaraan umum saja? Oh ayolah, Aditya tidak suka latihannya terhenti. Jadi anggap saja ini latihan juga.

[Tapi alasan aslinya sih, karena author sudah malas menulis ulang hehe.. #sleding]

[Oke back to story...]

.

.

“Hei, Juno. Ada yang mencarimu...” seorang namja bertubuh lebih tinggi dari Jay menatapnya remeh sembari sesekali mengaduk gelas Cocktail di tangannya. Jay melangkah mantap, ia menatap garang segerombolan anak SMA yang berdandan ala Borjuis
Di Korea memang ada peraturan tentang pelarangan anak dibawah umur minum Alkohol. Bahkan Soju sekalipun. Tapi, uang bisa merubah peraturan itu menjadi sebuah tisu toilet tak berguna bagi mereka yang memilikinya. 

“Ha? Kenapa anak SMA bisa ada disini? Nak, pulanglah.. mamamu akan mencarimu. Hahaha..” suara gelak tawa namja yang dipanggil ‘Juno’ itu meledak. Diikuti tawa oleh anggota timnya yang lain.

Wanita-wanita pelacur seksi yang ada di pelukannya tersipu malu. Sesekali mereka melirik ke arah Jay. Tentu saja, wanita waras manapun pasti akan menyadari kalau Jay itu sangat Kharismatik dan tampan.

“Kau sendiri juga seorang anak SMA. Junhyeong...” ucapan sarkas yang keluar dari mulut Jay membungkam mereka. Jay baru saja membongkar rahasia Juno. Ya, ia harus berbohong soal identitas aslinya dan usianya agar bisa duduk disini.

#brakk

Juno menggebrak meja, ia meraih gelas Vodka dan meneguknya dengan kasar.

#prangg

Gelas kecil itu pecah begitu menghantam dahi Jay. Darah merah dan segar mengalir ke setiap inchi permukaan wajahnya. Dan Jay tak peduli.

“Brengsek! Berani-beraninya kau menghinaku! Aku ini Juno. Did you hear that? J.U.N.O! JUNO! Aku anak boss besar pemilik Feather mart! Apa kau salah orang anak muda? Aku berusia tiga tahun lebih tua darimu! Pulang sana dan belajar!” gelak tawa kembali pecah.

Jay diam. Ia hampir menghajar wajah lelaki di hadapannya ini, namun ia masih bisa menahannya.

“Kenapa kau mengatakan kalau permainan basket kami adalah sebuah kecurangan?” ia sampai pada titik permasalahannya.

“Ha? Kau ini bicara apa?”

“Kenapa ka mengatakan kalau permainan basket kami adalah permainan sekumpulan monyet? Kenapa kalian berani menyuruh kami untuk berhenti? Tidak ada syarat khusus untuk bisa bermain basket!” Suara Jay meninggi. Juno terdiam sejenak.

“Ha? Untuk apa kau repot-repot kesini Cuma un-“

“John, hentikan..” Juno ebrdiri dan menghentikan ucapan temannya.

“aku kira ada apa si monyet ini repot-repot datang kemari..” Juno berdiri dan berjalan mendekatinya.

#buagh

“Uakh!” Jay memekik kesakitan saat sebuah tendangan mendarat tepat di perutnya, ia langsung jatuh tersungkur.

“Oh-ho.. pasti sakit...” timpal anggota-anggota lainnya.

Juno mencengkeram kerah bajunya, memaksa Jay menatap wajahnya yang mengesalkan.

“Berhentilah mengoceh seperti itu, aku tidak mau mendengarnya dari monyet sepertimu..”

#Bugh

Sebuah tinju melayang ke arahnya, namun Juno bisa menghindarinya dengan mudah.

“Kalian.. apa yang kalian lakukan kepada anggota kami?” suara Baritone Jacob mengintimidasi semuanya. Aditya membantu Jay berdiri.

“Oh, kenapa? Apa kalian tidak terima? Ini sangat lucu. Ketika sesama monyet saling membantu. Jhahaha..” John memancing emosi mereka.

“Ho.. kalian lawan kita saat Winter Cup nanti? Ini akan menjadi pertandingan yang mudah..” timpal yang lainnya. gelak tawa kembali memenuhi setiap sudut ruangan. Jacob sudah mulai terpancing, ia mulai marah. Ia mungkin akan menendang mereka satu persatu kalau Aditya tidak menahannya.

“Heh, tapi itu tidak masalah bukan? Kita akan menyelesaikanya disini sekarang juga..” John kembali memprovokasi mereka.

“Berhenti!” semua menoleh ke arah sumber suara.

“A-Aditya...”

“Aku tahu. Seperti yang kau bilang, kita akan menyelesaikannya di lapangan basket kan?” Aditya menatap Jay sekilas. “Ya...”

“Berkelahi di tempat seperti ini tidak akan menyelesaikan apapun. Ayo pergi, kita harus merawat luka Jay..” Aditya berbalik dan berjalan di depan Eunwoo yang membopong Jay. Jacob yang sudah marah terpaksa harus mengikuti perintah sang kapten.

“Bwahahaha... apa-apaan itu?! repot-repot datang kesini tapi langsung pergi begitu saja? Kalian bukan Cuma bodoh tapi juga pengecut! Itulah kenapa kalian itu pantas menjadi monyet!” John masih tak berhenti memprovokasi mereka.

“Hahahaha....”

“Jangan lupa bawa banyak popok saat pertandingan! Bayi! Jhahahahaha....” langkah Aditya terhenti.

“Shut up! Dummies! You guys just already to lose! We are gonna mops flow up with you on the Tournaments!” Aditya menatap mereka tajam dan berjalan pergi. John menjulurkan lidahnya sebagai tanda penghinaan.
.
.
.

Hari sudah malam, mereka memilik untuk berkumpul di Shooky Burger. Jacob kembali membawa antiseptik, obat merah dan beberapa perban serta plaster. Eunwoo mengobati luka Jay dengan hati-hati.

Dammit Aditya! Why you don’t let me beat those mothafuckass one by one?” Jacob memukul mejanya kesal. Ia meraih gelas Coca-cola dan meminumnnya dengan cepat. Lima bungkus Double-beef cheesy burger tersaji di depannya. Ya, porsi makan Jacob memang gila-gilaan. Mungkin hal itulah yang menjadi alasan kenapa jacob bisa tumbuh setinggi ini. Padahal ia masih kelas 1 SMA.

“Tidak ada gunanya kita melawan mereka disana, jacob..” Aditya melipat bungkus burgernya dan meleparnya ke tong sampah yang cukup jauh darinya. Tentu saja, masuk.

“Hal itu hanya akan membuat nama kita tercoreng. Apa kau ingin nama Vorpal Swords kembali hancur setelah susah-payah didirikan lagi oleh kakak kelas?”

“Siapa itu Vorpal swords?”tanya Hye Jun.

“Nama tim basket kita itu Vorpal Swords. Seo Jun-seonbaenim yang memberitahuku...” jawab Aditya.

Mereka kembali fokus ke makanan masing-masing, Jay menikmati Mocha Float-nya dalam diam. Hye Jun dan Woo Hyun berebut sepiring Red Velvet cake yang malah berakhir dimakan oleh Jacob. Seketika itu Jacob dihadiahi pukulan ‘cinta’ dari mereka.

#drrt..drrt..

Handphone di saku Adiya bergetar. Sebuah nomor telepon tertera di layarnya. Nomor telephone rumahnya.

“Yeoboseyo?”

Yeoboseyo? Tuan Aditya? Tuan aditya...” ia menautkan alisnya, suara salah satu pembantu di rumahnya.

“Ne, Ahjumma. Ada apa?”

“Tuan Aditya, anda harus pulang.. Kakak anda.. kakak anda...” suaranya terputus-putus, Aditya mendadak panik. Dengan secepat kilat ia berlari saat Bibi pembantu itu menyelesaikan ucapannya.

.

.

Aniya. Aniya. Hyeong.. hyeong..HYEONG!”



---To Be Continue---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE FAMILY

[REVIEW] ZICO's Mini Album & FANXYCHILD crew.

THE FAMILY