The Shape of Heart #1
The Shape Of Heart.
@SeptiaWu
.
.
Don't forget to review. Enjoy~
.
.
{chapter one}
.
.
.
.
Aku pikir hidupku
sempurna.
Nyatanya, aku hidup di
dunia mati. Aku mati.
Hujan membuat
dinding-dinding kelabu, kota kelabu, duniaku kelabu.
Orang-orang berjalan
tanpa perasaan. Jantung mereka berdetak. Tapi tidak dengan hatinya.
Mereka mati. Kita mati.
Aku mati.
Aku berpikir sejenak
tentang masa depanku. Tapi tanpa sadar, aku sudah berdiri di atas pagar.
Merasakan angin yang
menerpaku berlawanan dengan gravitasi, dan dinginnya jalanan beradu dengan
cairan hangat dari tubuhku.
Tubuhku mati. Tapi
tidak dengan jiwaku.
Dan semua kepingan
puzzle itu berputar di kepalaku. Seperti sebuah film.
Berjudul penyesalan.
.
.
Winter_2xx8
Suara bola
basket yang saling beradu dengan lapangan, sepatu-sepatu berdecit seiring
langkah kaki si pemakai. Menimbulkan irama tersendiri yang seakan menjadi lagu
yang selalu berputar memenuhi lapangan.
“aditya! Shoot!” sebuah bola melambung tinggi.
Mendarat tepat di tangan sesosok remaja berparas cukup tampan. Keringat
bercucuran dari dahinya, nafasnya memburu seiring langkah kakinya yang gesit.
Tangannya yang kokoh terjulur dan dengan hitugan tepat, bola besar berwarna
orange itu meluncur manis melewati ring.
Sorak-sorai
menggema di lapangan. Beriringan dengan suara peluit tanda permainan berakhir.
Pemuda-pemuda berseragam putih dengan garis biru itu saling bersorak. Satu
persatu dari mereka menepuk bahu atau menjabat tangan lawan. Sekedar
penghormatan atas permainan yang luar biasa.
“Aditya!”
pemuda berambut cepak itu menoleh, segerombolan siswi mendatanginya dari arah
tribun penonton.
“Aditya!
Permainanmu keren!” puji mereka, aditya hanya tersenyum dan berterima
kasih.
Bendera yang
senada dengan warna baju basket mereka, dihiasi lambang singa di tengahnya,
berkibar di atas lapangan. Berada di paling atas dari bendera-bendera lainnya.
Sorakan semakin kencang, bagi aditya. Semua ini seperti mimpi.
.....................................
“He?
Penerimaan anggota baru?” beberapa pasang mata menatap remaja bertubuh jakung
dengan kulit gelap di hadapan mereka. Jacob. Ace basket sekolah mereka itu
menunjukkan cengiran khasnya.
“ya, anggota baru!”
“tidakkah
itu terlalu cepat? Sekarang bahkan hasil ujian akhir belum diumumkan..” remaja
berkacamata itu menimpali. Sesekali ia terlihat membenarkan bingkai kacamatanya
yang melorot. Jacob menggaruk tengkuknya.
“Nah, i don’t really think its a bad idea,” kebiasaan
jacob tidak berubah, terkadang ia masih suka berbicara dengan bahasa aslinya,
logat amerikanya pun masih terasa kental meski ia sudah empat tahun berada di
korea.
“Menurutmu
bagaimana? Aditya?” Woohyun menatapnya. Aditya tak bergeming. point guard sekaligus Team
captain itu seakan sedang mempertimbangkan masukan Jacob.
“Kupikir,
akan lebih baik jika kita fokus pada Daegu Cup yang akan datang...” jawaban Aditya
diikuti anggukan dari anggota lain.
#ding dong
ding dong
Bel sekolah
berbunyi nyaring, mendadak semua siswa SMA Jaewon berlari ke arah lobby utama.
Satu-satunya alasan yang pasti adalah. Hari ini pengumuman hasil ujian akhir
mereka. Semua siswa berkerumun di depan papan pengumuman.
“Uwaaaahh....
bintang baru!” teriakan salah satu siswa mengalihkan perhatian semuanya.
Termasuk anggota tim basket SMA. Dengan sikap arogannya, jacob memandang tajam
ke arah kerumunan siswa. Serentak mereka menepi, memberi jalan pada aditya dan
yang lainnya.
Di depan
mereka terpampang nama-nama di papan hitam bertuliskan tinta emas. Sepuluh
bintang baru SMA Jaewon.
Aditya
Averroes Pratama. Nama itulah yang tertulis dengan huruf hangul dan berada di
urutan pertama dengan nilai rata-rata 98. Aditya tercengang. Daftar itu diikuti
oleh nama-nama anggota tim basket inti lainnya. Jacob kardisseus, Jay Yeol, Lee
Hye Jun, Kang Eun woo, dan Shin Woo Hyun.
Dalam
sekejap saja, mereka menjadi bintang SMA di tahun pertama sekolah.
“Woah,
padahal aku tidur di hampir setengah jam ujian matematika..” aku Jacob yang
menimbulkan gelak tawa diantara mereka. Semua tertawa, tapi tidak dengan Aditya.
......................
“Hmm...98?
ini masih kurang. Kau tahu nak? Butuh nilai sempurna untukmu bisa masuk di
universitas terbaik disini,” Aditya diam. wajahnya pias. Ia sudah tak memiliki
tenaga lagi untuk berbicara. Hatinya remuk saat mendengar kata-kata itu
meluncur dari bibir manis seorang wanita yang ia panggil ‘Mama’. Ia menarik
sebuah map merah dari genggaman Aditya.
“Dan ini,
berhentilah melakukan hal-hal yang tidak berguna. Gunakan waktumu untuk belajar
saja!” map itu terlempar. Sertifikat-sertifikat kemenangannya di pertandingan
basket yang ia dapatkan dengan bercucuran keringat, darah, dan air mata berserakan.
Sang mama melemparnya begitu saja tanpa perasaan.
Aditya tetap
tak bergeming. ia marah, kesal, semuanya bercampur menjadi satu. Ia marah pada
dirinya. Pada seorang pecundang yang tidak mampu berbuat apa-apa.
Kemarahannya
semakin meningkat. Saat ia melihat piala Winter cup yang baru baru saja ia
menangkan sudah teronggok di dalam tong sampah. Dengan gemetar, ia meraih piala
kaca itu dan meletakannya di atas nakas. Wajahnya merah padam. Ia sudah naik
pitam. Melempar seragamnya ke segala arah dan meraih bola basketnya pergi.
Sepatu Nike Air Jordan I ia gantungkan di leher.
“Mau kemana
kau Aditya?” wanita cantik itu menatap ke arahnya tajam. Aditya tak
menghiraukannya. Ia mengikat tali sepatunya dengan gusar.
“Aditya, kau
seharusnya belajar!” sang mama berdiri dan membanting majalah yang ia genggam,
putra penurutnya tak lagi mendengarkan kata-katanya.
“Aditya Averroes Pratama,
dengarkan mama! Ditya! Aditya!” semakin kencang sang mama berteriak, semakin
tidak peduli aditya padanya. Ia sudah muak dengan semua kata-kata dan
larangannya. Ia tidak mau menjadi seorang CEO ataupun sekedar Direktur. Ia
membenci posisi yang dimiliki ayahnya itu, posisi yang menyita perhatian
ayahnya dan membuatnya hampir tak memiliki kenangan apapun tentang bayangan
kisah ayah dan
anak semasa ia kecil.
Langkahnya
berbelok, ia memandang lapangan basket kompleks yang sepi di sore hari. Dribble, shoot, dribble, shoot. Hal itu
ia lakukan berulang-ulang. Perlahan-lahan keringatnya mulai bercucuran, ia
masih tak mau berhenti. Ia mencintai basket. Dan dengan basket ia bisa
melupakan segalanya.
Aditya
berdiri di tengah-tengah lapangan, ia melempar bolanya ke atas, membalik badan
dan berjalan menjauh. Ia mengira bola itu akan masuk ke dalam ring, seperti
yang selalu ia lakukan saat mencetak Three-Shoot
point.
“Uuu.. itu
keren,” Aditya terperanjat, ia menoleh dan mendapati sesosok lelaki berdiri di
sisi lapangan, bola basketnya memantul-mantul seiring gerakan tangannya yang
gesit. Aditya tersenyum kecil.
“Kau
mengagetkanku, Aris-Hyeong..”
laki-laki tinggi itu tersenyum kecil, ia berlari sembari mendribble bolanya ke arah aditya. Aditya
siaga. Ia berusaha merebut bolanya. Aris tak semudah itu, ia berkelit dan dalam
gerakan cepat, bola itu melambung tinggi melewati ring.
“Kau masih
belum bisa mengalahkanku ya?” Aditya tersenyum kecut, aris tak lain adalah sang
kakak. Satu-satunya orang yang memahaminya di rumah, dialah orang pertama yang
mengajarinya basket.
“Apa kau..
tidak berniat comeback? Bukankah di
universitas juga ada tim basket?” Aris tak menoleh, ia masih fokus dengan
bolanya, Shoot-nya tak pernah
meleset, semuanya selalu masuk dan melewati ring.
“Aku sudah
menyerahkan mimpi-mimpiku, adikku. Tidak ada lagi basket..” terdengar helaan
nafas berat di ujung ucapannya, Aditya menggeleng.
“Kau salah, hyeong. Mimpi itu tidak akan pernah
berakhir, tidak ada satupun manusia yang bisa merebut mimpi orang lain.
Termasuk kau..” Aris tersenyum.
“Seandainya
saja, hidupku semudah itu. Aditya...” Aris menatapnya, Aditya terdiam. Ia
melihat sirat keputusasaan di matanya.
“Tapi, kau
pasti bisa-“
“Aditya...”
Aris memotong ucapannya, Aditya yang hendak protes itupun kembali terdiam. Aris
menatapnya tajam. “... apapun yang terjadi kedepannya, aku berdoa kepada tuhan
agar kau tidak mengikuti jalanku..”
Aditya
mengatupkan bibirnya kuat-kuat.
..........................
Spring_2xx9
Angin musim
semi bertiup menerbangkan serbuk-serbuk bunga. Hawa sejuk sisa musim dingin
masih terasa menusuk kulit. Aditya refleks mengencangkan jaketnya. Pandangannya
kosong, seakan jiwanya sedang melanglang buana entah kemana. Tiba- tiba saja,
ia meletakkan kakinya di pagar pembatas atap. Mencondongkan tubuhnya ke depan. Membiarkan
angin menerpa rambutnya, tubuhnya semakin condong, kalung hitamnya yang
berbandul cincin itu menggantung begitu saja di lehernya.
“Oh, itu
dia...” pandangannya bertemu dengan sosok gadis yang selalu memperhatikannya.
Diam-diam, Aditya mengingat jelas kalau gadis itu selalu ada di setiap
pertandingannya.
Aditya
berlari turun, ia mendekatinya yang tengah duduk di bawah pohon kesemek.
“Hai..”
sapanya, gadis itu terkejut dan mendongak. Matanya membulat besar dan pipinya
tiba-tiba memerah.
“Ah, h-hai..”
“Boleh.. aku
duduk disini?” gadis itu mengangguk.
Keheningan
menyelimuti mereka, tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Aditya tertawa
kikuk.
“I-ini...” gadis
berambut hitam sepinggang itu menyodorkan sebuah Kimbap. Sushi ala korea yang sering dijual di swalayan atau pasar.
“a-aku
membuatnya sendiri...” Aditya mengambilnya satu, ia terkesan.
“Ini enak...”
pujinya jujur, gadis di sebelahnya itu menoleh dan tersenyum senang. “benarkah?”
tanyanya, Aditya hanya mengangguk.
“Syukurlah,
aku kira ini tidak enak. Karena i-ini makanan kesukaanmu...” Aditya terdiam, ia
mengamati wajah gadis yang sedang tersenyum itu. Manis sekali.
“Namamu...
siapa? Bagaimana kau bisa tau aku?” lagi-lagi, wajahnya memerah saat Aditya
menatapnya dengan intens.
“L-luna. Min
Luna. A-aku tau semuanya k-karena.. kau cukup populer di sekolah ini...” Aditya
hanya mengangguk. Keheningan kembali menyelimuti mereka.
“Luna,
bolehkah aku menanyakan sesuatu?” ucap Aditya tiba-tiba. Luna tak menjawab. Ia
hanya menatapnya, menunggu pertanyaannya.
“Menurutmu,
hidup itu apa?” Luna mengrenyitkan dahinya, alisnya saling bertaut. Ia
memikirkan jawabannya dan tersenyum.
“Hidup itu
sebenarnya anugerah...”
“Anugerah?
Untuk apa tuhan memberikan kita anugrah dengan hidup yang berat?” Aditya
protes, Luna menggeleng tak setuju.
“Hidup itu
anugerah, tuhan memberi kita hidup. Sebenarnya, manusianya itulah yang membuat
segalanya terasa berat. Semua orang mempunyai masalah, mereka ingin menghindari
masalahnya dengan mati, tapi apakah tak pernah terpikir oleh mereka, ada
ratusan bahkan jutaan orang di dunia yang ingin tetap hidup. Meski hanya
sehari?”
Aditya
terkesima. Ucapan luna benar-benar membuka matanya.
..........................................................
Musim Panas, 2xx9
“APA KAU
BERCANDA?!” terdengar bentakan dari arah ruang keluarga, aditya mengenal sekali
suara itu. ia berdiri di lorong ruang tamu, masih dengan seragam dan tas di
punggungnya. Matanya menatap papa dan mamanya, ia juga mengenali sang kakak
yang berdiri membelakangi dirinya. Kertas kertas berhamburan di sekelilingnya.
Persis seperti yang ia alami beberapa minggu yang lalu.
“Aku mengirimmu
ke universitas itu bukan untuk bermain-main! Bagaimana bisa nilaimu bahkan tak
jauh lebih tinggi? Aku tahu kau satu universitas dengan anak tuan Kim.
Bagaimana bisa, nilai anak tuan kim yang bahkan posisinya hanya seorang staff
manager jauh lebih tinggi darimu?” Wajah sang Papa merah padam, urat-urat
muncul ke permukaan lehernya. Sang mama tak berusaha menenangkan suaminya,
justru ekspresi setuju dan menyalahkan yang bisa ia dapat darinya.
“Tentu saja
dia bisa mendapat nilai lebih tinggi, dia dan aku berbeda fakultas. Dan setiap
fakultas memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Lagipula, sampai kapan
kalian akan terus membandingkan aku atau Aditya dengan anak orang lain? Aku
bisa menerima amarah kalian, tapi jangan tujukan itu pada Aditya!”
#Plakk
Aditya
terkesiap. Ia melihat sang kakak ditampar di hadapannya sendiri. kakak yang
selalu memberikan punggungnya untuk menjadi tameng saat kedua orang tuanya
hendak memukulnya semasa ia kecil, kakak yang selalu tersenyum saat ia
memangis, kakak yang selalu mengajarinya basket, dan kakak yang selalu ada
disaat orang tuanya sibuk berkeliling dunia untuk bisnis.
“Brengsek!
Beraninya kau menceramahiku saat posisiku adalah ayahmu! Akulah yang membuatmu
bisa berada disini sekarang! Uangku dan jabatankulah yang bisa membuatmu makan
dan tidur enak! Dasar anak tidak tahu diri!” amarahnya semakin menjadi-jadi.
Aris tak gentar, ia tetap meluruskan pandangannya.
Ia bisa
melihat seberkas darah di punggung tangannya, tamparan keras itu membuat sudut
bibir Hyeong-nya itu terluka.
“Aku hanya tidak mau kau hidup
sepertiku. Aku percaya kau lebih kuat dariku..” kata-katanya kembali terngiang.
“Dan ini!
Berhentilah membuang-buang waktu dan ruangan ini dengan memenuhinya dengan
sampah!”
“Lakukan
sesuatu, hyeong..” bisiknya, hatinya hancur
saat melihat sang kakak yang hanya diam dan berdiri seperti patung melihat
semua sertifikat dan piala basketnya dihancurkan.
“Berhenti
bermain benda bodoh ini!” air mata menggenang di pelupuk Aditya melihat bola
basket milik kakaknya itu di hancurkan. Tak hanya dihancurkan, kedua orang
tuanya juga membakarnya.
“Lihat ini, Aditya...”Aris membuka
sebuah kotak berwarna hitam di pangkuannya.
“Uwooh! bola basket!”mata besar
Aditya terkesima melihat bola besar berwarna orange. Bola yang selalu
membuatnya kagum pada hyeongnya itu berkali-kali saat hyeongnya bertanding.
“Dengan bola ini, kakakmu pasti akan
menjadi pemain basket terbaik di SMA!”gadis bersurai hitam sebahu di hadapan
mereka tersenyum. Gadis itu tak lain adalah Eunmi. Kekasih hyeongnya. Aditya
bisa melihat banyak bekas luka dan perban di jari-jarinya.
Belakangan ini ia tahu, Eunmi bekerja
di sebuah restaurant cepat saji, ia bukanlah gadis kaya sepertinya atau
hyeongnya. Tapi Aris mencintinya karena gadis itu kuat, dan ia mengakui itu.
Bola basket itu seperti bola basket
keberuntungan bagi Aris. Sehari sebelum bertanding, ia harus berlatih dengan
bola itu. dan bisa dipastikan, ia akan menang esoknya.
Aditya tahu, Aris mencintai bola itu
sebesar ia mencintai Eunmi.
Ingatan
tentang bola basket itu kembali berputar. Tiga tahun yang lalu, Aris mendapat
bola itu dari Eun-Mi. Kekasihnya di SMA. Eun-mi sampai harus bekerja sampingan
demi membeli bola itu, ia tahu betul betapa berharganya bola itu bagi sang
kakak. Sekarang, benda bulat berwarna orange itu perlahan-lahan habis dilalap
api.
“Berhenti
bermain benda bodoh ini atau aku akan memperlakukan Eunmi sama seperti aku
memperlakukan bola ini!”
Aris dan
Aditya terkesiap. Aris berusaha sekuat tenaga agar hubungannya tidak diketahui
kedua orang tuanya, bukan, bukan karena ia takut orang tuanya akan tahu bahwa
ia mengencani gadis miskin. Ia hanya takut, orang tuanya berlaku gila pada
Eunmi. Dan kini, ketakutan itu terjadi.
“Hyeong lakukan sesuatu...!”
Ia hanya
bisa mengucapkannya dalam hati, Aditya menangis. Hatinya sakit, tapi ia tahu
sang kakak jauh lebih menderita.
Hujan turun
mengguyur kota Seoul, seakan tahu dua hati sepasang kakak beradik menangis
dalam diam.
-To Be Continue-

Komentar
Posting Komentar