The Shape of Heart #3

The Shape of Heart
@Septia_Wu
.
.
.
.
.
.
don't forget to review. Enjoy~~
.
.
{Chapter 3}
.
.
.
.
................
Chapter 3

Seharusnya musim panas ini dinikmati dengan es loli atau permen buah yang segar, atau mungkin sekantung jeruk Jeju yang manis di hari yang sangat terik. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini justru sering sekali hujan.
Aditya berdiri di bawah hujan, air mata terus mengalir di kedua sudut matanya. Meski begitu, ia tidak bersuara. Sebuah payung melindungi tubuhnya. Ia menoleh dan mendapati Jay, Woohyun, Jacob, Eun Woo dan Hyejun mengelilinginya

"Kau pasti kuat kan? Kapten?” ujar Woohyun. Aditya tak bergeming. Ia bisa mendengar teriakan sang Mama cukup histeris. Bukannya iba, ia justru semakin marah dan sakit mendengar teriakan itu. ingin sekali ia balas berteriak dan memaki kedua orang tuanya. Tapi ia tak bisa.

“Biarkan karma yang akan membayarnya. Biarkan waktu yang akan membalasnya. Biarkan tuhan yang menentukan jalan ceritanya. Tuhan adalah penulis skenario terbaik."
.
.


Dua minggu berlalu, Jacob men-dribble bolanya dengan malas. Sudah cukup lama sejak kemunculan sang kapten di lapangan. Mereka bagai Anak buah kapal yang kehilangan Kapten sekaligus navigator. Tanpa Aditya, mereka tak bisa berjalan.

“Sudah cukup!” Jacob membanting bolanya kesal. “Ini tidak bisa dibiarkan! Mau sampai kapan kita akan diam seperti ini? Apakah kita akan diam saja sementara orang-orang yang menghajar Jay juga akan menghajar kita di lapangan nanti?” Jacob tersulut emosi.

“Aku tahu Jacob, tapi kau juga harus memahami kondisi Aditya sekarang...” Eunwoo berusaha menenangkan Ace mereka. Jacob menggeleng kuat.

“Tidak. Ini salah, kita memilih Aditya sebagai kapten karena kita percaya padanya. Seharusnya dia bisa bersikap Profesional. Dia tidak boleh mengutamakan emosinya sekarang..”

“JACOB KARDISSEUS!” Jay berteriak, Jacob dan yang lainnya terkesiap.

“Berhenti bicara. Apa kau sadar ucapanmu keterlaluan? Dia sedang dalam masa-masa sulit, tidakkah kau mengerti itu?” Jacob terdiam. Memandangi Jay yang menatap marah ke arahnya. Tiba-tiba saja ia tertawa.

“Benar-benar memalukan. Bagaimana bisa aku satu tim dengan orang-orang lemah seperti kalian?” Jacob meraih tasnya dan berjalan pergi.

“Yak! Jacob! JACOB!”

Hyejun berteriak kesal. Woohyun tertunduk. Ini gila, ini bukanlah apa yang mereka inginkan. Kejuaraan akan diselenggarakan awal musim dingin nanti. Dan ini sudah hampir memasuki akhir musim panas.

Winter Cup Basketball Competitions adalah ajang bergengsi di seluruh penjuru Korea. Pemenang dari kejuaraan ini akan menyandang title Tim Basket SMA terbaik se-Korea. Selain itu, mereka bisa berpeluang besar untuk masuk tim nasional atau bahkan lolos seleksi NBA Juniors.

Tapi semua itu hanya akan menjadi angan-angan. Keinginan senior-senior terdahulu mungkin tidak akan pernah terwujud. yaitu mendapatkan piala utama kejuaraan ini.

Semua tertunduk lelah, pada awalnya, kemenangan demi kemenangan mereka dapatkan dengan mudah. Namun, apakah kehancuran juga akan semudah itu mereka dapatkan?

“Aku tahu harus meminta tolong pada siapa...” ujar Hyejun tiba-tiba. Ia merogoh sakunya dan menekan beberapa digit angka. Nada sambung terdengar cukup lama setelah ia menekan tombol dial.

“Yeoboseyo?”

“aku butuh bantuanmu...”
......................

“A..di..tya.. A..di..ty..a...” samar, ia mendengar seseorang menyebut namanya. Gelap, ia tak bisa melihat apapun. Semuanya gelap, ia bahkan tak tahu ia sedang berpijak di dimensi apa.

“A..di..tya..” Aditya menyipitkan mata saat sekelebat cahaya menyapa retinanya. Ia melihat cahaya di ujung kegelapan. Aditya melangkahkan kakinya berat.

Samar, ia melihat cahaya terang, namun entah kenapa bayangan di sekitarnya malah mengabur.

“Aditya? Kau bangun?’ suara itu mulai terdengar lebih jelas, ia masih linglung. Menatap plafon putih di atasnya.

#gratak

Aditya kaget, ia tak bisa menggerakkan lengannya, ia mencoba mengguncang tangannya, sulit. Hanya terdengar suarak derak besi yang saling berbenturan.

“Aditya! Aditya! Hentikan...” seseorang menyentuh dahinya, ia menoleh dan mendapati Luna disana. Gadis manis itu tersenyum. “Hentikan...”

Setelah berhasil duduk, kekagetan menyusupi dirinya. Ia terbangun diatas ranjang rumah sakit, piyama putih dengan beberapa tali membalut tubuhnya. Ia tahu sekarang, suara derak tadi berasal dari pergelangan tangannya yang terborgol menyatu dengan pinggiran ranjang. Suara teriakan dan tangisan terdegar di kamarnya, di koridor, dimana-mana.

“Aku...dimana?”

“Kau di rumah sakit...” jawab Luna sedih, Aditya masih tak mengerti.

“Rumah...sakit?” ulang aditya, Luna mengangguk.

“Jiwa...” sambung Luna, Aditya semakin bingung. “Apa?’ tenggorokannya sekering sahara. ia masih tidak mengerti.

“Kau di rumah sakit..jiwa..” kosong. Pandangan aditya kosong. Kenapa? Kenapa ia bisa di rumah sakit jiwa? Ia bahkan tidak merasa sedang sakit atau apapun.

#gratak.gratak

“Kenapa... mereka memborgolku? Kenapa aku bisa ada disini?” ulangnya, air mata menggenang di pelupuk mata Luna. Luna tak menjawab, gadis manis itu memalingkan wajahnya. Aditya masih kebingungan. Luna diam, ia hanya menyingkap lengan piyama kirinya. 
Aditya bisa melihat dengan jelas, bekas luka sayatan tersebar dimana-mana. Meski luka itu telah sembuh, namun masih menyisakan bekasnya.

“Kau berusaha membunuh dirimu sendiri....”

.........................

Tiga hari sudah Aditya disana, sesekali ia keluar ke arah taman ditemani seorang suster. Luna, Riko, dan anggota Tim Basketnya secara rutin bergantian menjaganya disini. Ingatan Aditya sepenuhnya pulih. Rasa sakit menusuk hatinya mengingat ia tak melihat orang tuanya berkunjung sama sekali.

“Bahkan orang tuaku tak peduli jika aku harus berakhir disini?” pikirnya suram.

“Kau sudah menunjukkan perkembangan yang baik, saya akan melepas ikatanmu...” Aditya tak bergeming, ia menatap suster yang melepas borgol dan ikatan tali di kakinya. Pandangan matanya terarah ke atas nakas. Suster itu meletakkan potongan buah dan sebuah map berisikan catatan medis serta pena diatasnya.

“Suster?” wanita di awal usia 23 tahunnya itu menatap ke arahnya dengan senyuman. "ya?" jawabnya.

“Bisakah kau mengambilkanku air?” ia menunjuk sebuah dispenser di sudut kamar, suster itu tersenyum dan menuruti permintaannya.

“ini.. minumlah pelan-pelan...” Aditya melakukannya, dan menyodorkan kembali gelas itu padanya. Suster itu pergi membawa mapnya dan tanpa kecurigaan.

Senyum Aditya memudar, tergantikan oleh tatapan dingin yang tak seorangpun bisa mengartikannya. Di balik selimut putih, ia menyimpan hasil rekam medis miliknya dan sebuah pena.

......................

“Oh, hai Luna...” Woohyun menyapa seorang gadis di depannya, gadis itu menatap ke arahnya sembari tersenyum.

“Hai Jay, Hyejun, dan Woohyun...” sebutnya satu persatu. Mereka berjalan beriringan ke arah yang sama.

“Aku tidak percaya Aditya yang kuat bisa berakhir di tempat seperti ini...” ujar Jay tiba-tiba, semua menunduk sedih.

“Kita tidak pernah tahu hidup seseorang, Aditya mungkin terlihat kuat, tapi justru dibalik sosok yang kuat ada jiwa yang sangat rapuh di dalamnya. Kita tidak benar-benar mengenal Aditya. Kita hanya mengenal sosok Aditya yang kuat dan ganas di lapangan, tapi kita tidak mengenal Aditya yang jiwanya mudah pecah jika kita menyentuhnya sembarangan...” penjelasan panjang Woohyun membuat mereka terdiam.

@Doctor’s Room

“Kondisi kejiwaannya justru semakin meningkat tajam, ia termasuk salah satu pasien yang mudah mengendalikan empati orang lain...” keempatnya mendengarkan penjelasan dokter yang menangani Kapten mereka dengan tenang, meski mereka tidak mengerti apa yang ia maksud.

“mengendalikan empati?” ulang Luna, dokter di hadapannya mengangguk.

“ya, semacam ia bisa memanipulasi perasaan orang lain, membuat dirinya benar-benar dalam kondisi yang menyedihkan sehingga siapapun yang melihatnya tentu akan merasakan keterpurukan seperti dia. Pada hari pertama presentase kejiwaannya mencapai 55% dan di hari ketiga turun menjadi 25%. Tentu sebuah hal baik jika presentase kejiwaannya terus menurun...” jelasnya sembari mengamati sebuah kertas.

“tapi, di hari keempat, presentasenya naik menjadi 75%....”

“B-bagaimana bisa-“

“Ia mengambil kertas hasil medis dan merobeknya, ia juga mengambil pena yang kemudian dihujamkan pada tangannya. Kami juga tidak tahu bagaimana ia bisa mendapat pecahan kaca yang digunakan untuk melukai tangannya sendiri...”

Penjelasan sang dokter membuat keempatnya bergidik ngeri. Benar saja, Aditya tertidur dengan lengan yang diikatkan pada baju di tubuhnya. Mereka menduga, Aditya pasti tertidur karena efek obat bius atau obat penenang. Apapun itu, masalah ini semakin memburuk.
.
.
.

Perilaku Aditya semakin tak terkendali, berkali-kali ia berusaha menyakiti dirinya sendiri. tak peduli apakah teman-temannya atau Luna selalu ada di sisinya, tetap saja ia merasa sendirian di dunia ini.

“Dunia ini hanya berisi orang-orang brengsek. Orang-orang yang tidak berperasaan, mereka hanya menginginkan uang dan uang. Persetan dengan dunia berisi sampah seperti ini, mau sekuat apapun aku berusaha, toh, mereka tidak peduli...”

Saat ini, Aditya mungkin terlihat seperti pasien jiwa lainnya, berbicara sendiri. Aditya berdiri di tengah koridor, menjulurkan tangannya dibalik teralis besi yang membatasi semua balkon. menghindari kalau-kalau banyak pasien yang mengamuk dan melompat dari ketinggian.
Ia membiarkan cahaya hangat matahari pagi menerpa dirinya.

Di sekeliling Aditya ada banyak pasien dengan berbagai kondisinya. Ada yang suka berbicara dengan tembok, mencakar wajahnya, tidur di dalam bak mandi, merenung, bahkan berteriak-teriak.

Hei...” Aditya melirik seseorang disampingnya, seorang remaja lelaki seusianya. Bahkan, baju yang dikenakannya pun sama.

“Apa yang membuatmu disini? Kelihatannya, kau sama sepertiku...” remaja lelaki itu mengajaknya bicara dengan mudahnya, seakan-akan sudah lama kenal. Aditya sedikit bingung, remaja di hadapannya tak menunjukkan tanda-tanda kalau ia mengidap gangguan, tapi ia berakhir di tempat ini dengan pakaian yang sama sepertinya

Mental disorder. Depression* dan Harm-self *, sometimes i tried to do suicide..”jelas Aditya, remaja itu mengangguk.

“we have similiar case. I’m mental disorder too~” ujarnya riang.

“Benarkah? Kalau kuperhatikan, sangat tidak mungkin kau menderia gangguan sepertiku. Kau terlihat... ceria?” Aditya menautkan alisnya, remaja lelaki di hadapannya itu hanya tertawa.

“Yah, aku menderita Bipolar Disorder*, OCD* juga Munchausen Syndrome*. Kau tidak bisa menilai orang lain dari luarnya, benar kan?” Aditya tersenyum tipis “Yah, benar...”

“Jadi? Apa kau mau menceritakan masalahmu padaku?” Aditya menatapnya bingung.

“Untuk apa aku harus menceritakan masalahku padamu?” lagi-lagi, remaja itu hanya tertawa.

“Karena kurasa, aku bisa membantumu, Aditya. Kau tahu, kau dan aku sama. kita hidup di dunia Zombie. Orang-orang menganggap kita gila, padahal sebenarnya tidak. lebih tepatnya mereka yang gila. Mereka saja yang cukup brengsek dan menganggap enteng permasalahan yang kita hadapi..” ucapan remaja itu tepat mengenai hatinya. Emosi tiba-tiba menguasai tubuhnya.

“Benar, People hate nazi but they act more rude than nazi. They thought that our case isn’t a hard case. In fact, they don’t know ANYTHING ABOUT US!” tanpa sadar, aditya berteriak. Remaja di hadapannya tersenyum tipis.

"Well, kau hidup bersama manusia yang bukan manusia. Apakah mereka manusia? apakah manusia itu membunuh dan memakan manusia lainnya? i'm not sure, mereka mengatakan simpati padamu dan saat kau berbalik. Boom! mereka menusukmu! Am i right?" Aditya tercenung. gaya bicara remaja di hadapannya ini cenderung berputar-putar dan penuh semangat. Ah, Bipolar. mungkin dia dalam keadaan 'Highest Mood' sekarang.

"Nah, jadi kau membenci manusia?"
"Uh-huh.."
"Lalu kenapa kau berbicara denganku? bahkan memintaku untuk menceritakan masalahku padamu?" Remaja itu memiringkan kepalanya. "Apa kau manusia? aku kira kau itu grimm reaper, like me!"

"yah, lelaki ini memang sedikit rumit. tapi apa yang dikatakannya benar-benar..." batin Aditya tertawa.

"Aku dan kau malaikat pencabut nyawa?" ulangnya, remaja lelaki itu mengangguk cepat. "Ya, kita adalah malaikat maut untuk makhluk hidup yang disebut 'manusia'. bukankah manusia itu mengerikan?"

"Tidak semua manusia mengerikan. bukankah masih ada manusia yang baik?"

"Tidak. Manusia yang masih memiliki hati di dalam dirinya lebih tepat disebut malaikat.." Aditya benar-benar tertawa.

See? Kau bisa meluapkan emosimu. Luapkan saja, jangan membunuh dirimu. Kau masih terlalu berharga untuk mati...” remaja itu berbalik dan menatap jauh ke langit. mereka terdiam cukup lama.

"Aku merasa tidak ada yang peduli padaku. kenapa aku harus hidup?"

"Dammit!" Aditya terkejut mendengar penuturan dadakan dari orang di sebelahnya itu. That's how bipolar does! they can changes people's mood so fast! sepuluh menit yang lalu ia masih berada di "Highest mood". dan dalam sekejap ia berada di "Lowest mood"?

"Apa yang kau maksud? bukankah kau bilang manusia itu tidak semuanya mengerikan?" ulang Aditya. remaja itu tertunduk. benar-benar berbeda dengan kedatangannya tadi.

"Benarkah? tidak. Manusia itu mengerikan, isn't? they use our problem as a joke. they use mental illness as a reason to avoid the law, they only care about people with mental illness when their idol has it.." ia berjalan pergi dengan tertatih-tatih. Aditya melihat tali yang menjulur di sekitar kakinya terikat kuat, tangannya pun terikat menyatu dengan pakaiannya.

Hey, wait! Who are you? How can you know me? What’s your name?” teriak Aditya, remaja itu berhenti namun tidak membalik tubuhnya.

“Me? Nothing. No one. Nobody. Just a person who hate people more than God hate satan. I know you, cuz we have similiar case and love same person. Name? Humm.. i don’t have name. But you can call me Sky..”

Mendadak tubuh Aditya terasa ringan, seperti diatas awan. Ia bisa merasakan sisi kiri tubuhnya menghantam lantai. Pandangannya mengabur. Satu-satunya yang bisa ia lihat hanya punggung Sky yang semakin menjauh sebelum akhirnya seluruhnya gelap.

Satu-satunya yang ia bisa rasakan hanya hawa dingin. Dingin yang menyentuh kulitnya, namun masih belum bisa mengalahkan dingin di dalam hatinya.

“Am i gonna die?”

................To Be Continue.............

Note:

*Mental disorder : atau mental illness adalah berbagai kondisi yang mempengaruhi suasana hati, berpikir, dan perilaku seseorang.

*Depression : Depresi. salah satu dari sekian banyak jenis gangguan mental yang terjadi sedikitnya selama dua minggu atau lebih yang memengaruhi pola pikir, perasaan, suasana hati (mood) dan cara menghadapi aktivitas sehari-hari. Yang terbagi atas beberapa level mulai dari ringan-berat.

*Harm-self : perilaku melukai diri sendiri sebagai bentuk pelampiasan emosi terpendam, pada kasus ringan hanya melukai dengan benda tajam kecil, kasus sedang dengan menyayat, menusuk, atau membakar salah satu anggota tubuh, pada kasus berat. Membenturkan kepala ke dinding dan bunuh diri.

*Bipolar disorder : gangguan kejiwaan dengan perilaku emosi mudah berubah. Seseorang yang mengidap 
bipolar bisa terlihat sangat bahagia dan beberapa menit kemudian menjadi sedih dan depresi.

*OCD { Obsessive Compulsive Disorder} : gangguan obsesif kompulsif.  Seseorang yang mengalami gangguan ini tentu pikirannya akan didominasi dengan segala ketakutan maupun pikiran yang sangat mengganggu sehingga dinamakan obsesif. Keadaan ini justru membawa penderita untuk melakukan ritual berulang kali yang akhirnya kita bisa sebut dengan kompulsif.

*Munchausen Syndrome : gangguan mental yang serius dimana seseorang mencari perhatian dengan berpura-pura sakit, menjadi sakit/sengaja terluka demi mendapat pertolongan atau perlindungan dari orang lain/ tenaga medis.


-This chapter based on author's true story-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE FAMILY

[REVIEW] ZICO's Mini Album & FANXYCHILD crew.

THE FAMILY